Pemujaan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Pasupati Melalui Media Lingga Di Pura Kancing Gumi,(Kajian Teologi Hindu Resume Hasil Penelitian Tesis)

PENDAHULUAN
Sarana pemujaan Agama Hindu di Indonesia sangat banyak jumlahnya, baik berupa peninggalan-peninggalan kuno seperti candi, arca, pratima, barong maupun bentuk lainnya yang tujuannya sebagai alat, media atau sarana mengkonsentrasikan pikiran untuk melakukan pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Diantara sekian banyak sarana tersebut salah satunya yang digunakan sebagai media pemujaan adalah berupa Lingga. Lingga yang menjadi objek penelitian ini adalah Lingga di Pura Kancing Gumi yang terletak di Desa Adat Batulantang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Lingga di Pura Kancing Gumi merupakan stana pemujaan yang ditujukan kepada manifestasi Tuhan yang diberi julukan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati. Keunikan lain yang terdapat di Pura Kancing Gumi ini adalah bahwa pura ini memiliki dresta khusus yang berbeda dari pura-pura yang ada di Bali atau di Indonesia, yakni diterapkannya pantangan tangkil (masuk untuk sembahyang) bagi wanita hamil dan ibu yang sedang menyusui. Selain itu masyarakat tidak diperkenankan menghaturkan upakara atau banten yang berisi daging babi serta ada upakara khusus yang dipersembahkan setiap kali piodalan dan hari-hari suci seperti persembahan telur itik sebanyak 6 biji dan upakara khusus lainnya disamping itu pemedek (orang) yang ingin sembahyang dilarang mengenakan alas kaki ke areal utama mandala Pura Kancing Gumi. Selain itu masih ada keunikan lainnya, yakni setiap orang yang telah melakukan persembahyangan akan diberikan benang tridatu (benang tiga warna, yaitu merah, hitam, dan putih) juga diberikan bangket yang terbuat dari daun Kayu Mer yang dibakar dan ditumbuk halus sebelumnya. Sebagai penelitian perspektif Teologi Hindu, maka data yang didapat di lapangan harus dikonfirmasikan terhadap teks-teks religius Hindu. Selama data dan analisis data serta kesimpulan tidak merujuk kepada teks-teks religius (teologis) maka hal tersebut belum dapat dikatakan sebagai kajian teologis.

METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yang bersumber pada data-data yang bukan angka-angka kerap dilawankan dengan penelitian kuantitatif yang bersumber pada data angka-angka. Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Adapun jenis data yakni data kualitatif dan data kuantitatif. Sumber data primer penelitian ini adalah pengamatan langsung di lapangan terhadap pemujaan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Pasupati melalui media Lingga di Pura Kancing Gumi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari hal lain, seperti buku-buku referensi yang menunjang penyelesaian penelitian ini. Dalam penelitian ini digunakan instrumen berupa pedoman wawancara yang dilengkapi dengan tape recorder, camera digital dan pencatatan. Teknik penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan setelah peneliti mendapatkan data-data yang diperlukan dari wawancara, observasi, studi pustaka dan dokumentasi yang kemudian diolah dan dianalisis untuk mendapat kesimpulan yang valid guna menghasilkan karya ilmiah yang berbobot.

HASIL PENELITIAN
A). BENTUK TEOLOGIS HINDU DALAM PEMUJAAN ID BHATARA LINGSIR MELALUI MEDIA LINGGA DI PURA KANCING GUMI

1). Lingga Sebagai Salah Satu Simbol Suci dalam Agama Hindu
Lingga sebagai salah satu simbol suci dalam Agama Hindu, Lingga yang berada di Pura Kancing Gumi merupakan sebagai salah satu simbol suci dalam Agama Hindu. Lingga dipergunakan oleh masyarakat Desa Adat Batulantang sebagai sarana untuk memuja Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati Lingga merupakan simbol atau ñyasa yang berfungsi sebagai sarana penghubung antara manusia dengan Tuhan dalam hal ini manifestasi dengan sebutan Ida Bhatara Lingsir.

Lingga tampak dari depan
Lingga tampak dari depan

2). Arti Sebutan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati
Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati adalah sebutan lengkap manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja oleh masyarakat di Desa Adat Batulantang melalui media Lingga di Pura Kancing Gumi. Ida memiliki arti yang dimuliakan, Bhatara artinya sama dengan deva yang disucikan. Dalam Bahasa Bali lingsir memiliki arti tua atau dituakan. Dalam pengertian masyarakat setempat lingsir yang dimaksud adalah Beliau sebagai pencipta, pemelihara, pelebur dan beliau yang maha tahu, penguasa dan memberikan pelindungan
Nama Śiva berarti yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan. Sedangkan Paśupati merupakan salah satu dari seribu nama Śiva itu sendiri. Śiva sebagai Paśupati adalah Dewa kehidupan, yang menyayangi dan baik hati, melindungi semua mahluk hidup. Śiva sebagai Sang Hyang Paśupati adalah manifestasi Tuhan untuk dipuja dalam menguasai diri dengan tapa, brata, yoga dan Samadhi sesuai dengan ajaran Śiva Pashupata menekankan pada arah beragama ’kedalam diri sendiri’.
3) Lingga Di Pura Kancing Gumi Sebagai Stana Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati
Lingga di Pura Kancing Gumi merupakan stana sekaligus sebagai wujud Sakala Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati. Lingga digunakan sebagia simbol perantara umat Hindu untuk melakukan pemujaan kepada Ida Bhatara Lingsir. Keberadaan Ida Bhatara Lingsir yang memberikan ciri atau cihna berupa sinar suci yang bersumber dari Lingga. Munculnya keris secara gaib dan menunjukkan bahwa Beliau memang benar berstana pada Lingga di Pura Kancing Gumi.

Tampak Depan Pura Kancing Gumi saat piodalan
Tampak Depan Pura Kancing Gumi saat piodalan

 


4). Proses Pemujaan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati Melalui Media Lingga
Seluruh proses yang dilakukan dalam rangka pemujaan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati melalui media Lingga di Pura Kancing Gumi merupakan proses untuk menyucikan simbol-simbol Tuhan dalam rangka menumbuhkan rasa bhakti dan meningkatkan sraddha kepada Ida Bhatara Lingsir sebagai manifestasi Tuhan.
5). Upakara yang Dipersembahkan dalam Pemujaan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati
Pemujaan yang dilakukan kepada Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati melalui media Lingga di Pura Kancing Gumi disertai dengan mempersembahkan sarana ,(1) Sarana pemujaan setiap hari,,dalam pemujaan yang dilakukan setiap harinya sebagai wujud rasa bhakti dan persembahan kepada Ida Bhatara Lingsir, jro mangku yang mendapat tugas mempersembahkan canang pada Lingga tersebut. (2) Sarana pemujaan pada hari suci Hindu dan piodalan, ,sarana upakara yang dipersembahkan pada hari-hari suci dan juga pada hari piodalan di Pura Kancing Gumi memiliki keunikan tersendiri dikarenakan terdapat upakara khusus yang harus dipersembahaknan. Sarana upakara khusus itu adalah pras ajengan daksina, dampulan kelanan gong, ulam taluh itik meguling dan segehan dan juga banten pulegembal

Upakara Telur Itik mentah Sebanyak Enam Biji
Upakara Telur Itik mentah Sebanyak Enam Biji
Upakara Pras Ajengan Daksina,Tipat Kelanan Gong Serta Ulam Taluh Meguling
Upakara Pras Ajengan Daksina,Tipat Kelanan Gong Serta Ulam Taluh Meguling

6). Kepuasan Melakukan Pemujaan Kepada Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati Memberikan Rasa Puas
Kepuasan dalam rangka pemujaan pada Lingga juga di perlihatkan oleh masyarakat baik pria maupun wanita yang melakukan aktifitas ngayah untuk mempersiapakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemujaan. Pria dan wanita dari anak-anak hingga dewasa memiliki tugas masing-masing. Selesainya tugas yang diberikan baik secara pribadi maupun berkelompok merupakan suatu kepuasan dan masyarakat menyadari bahwa apa yang dilakukan itu merupakan suatu persembahan kepada Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati. Setelah melakukan pemujaan seperti biasa masyarakat mendapatkan tirtha, bija, benang tridatu dan juga menerima bangket. Masyarakat di Desa Adat Batulantang juga memiliki tradisi yang unik yakni nunas di Pwaregan atau makan bersama di dapur umum pura setelah melakukan pemujaan.

7). Puja Mantra yang digunakan dalam Pemujaan Ida Bhatara Lingsir
Pemujaan yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat baik pemangku maupun pemedek pada umumnya menggunakan bahasa hati atau bahasa sendiri (See). Namun dalam pemujaan yang dilaksanakan secara bersamaan atau berkelompok yang di enter atau di koordinir oleh pemangku atau bendesa adat menggunakan puja mantra yang dilakukan masyarakat secara umum baik itu puja trisandya dan panca sembah atau kramaning sembah.

B). FUNGSI TEOLOGIS PEMUJAAN LINGGA DI PURA KANCING GUMI DESA ADAT BATULANTANG
1). Lingga di Desa Adat Batulantang sebagai Media
Lingga di Pura Kancing Gumi yang digunakan oleh masyarakat umat Hindu Desa Adat Batulantang merupakan salah satu pratima (sarana atau alat) pemujaan bagi masyarakat umat Hindu Desa Adat Batulantang untuk melakukan persembahyangan. Lingga yang digunakan oleh masyarakat umat Hindu Desa Adat Batulantang berfungsi secara relegius untuk menghubungkan antara umat Hindu dengan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Ida Bhatara Lingsir.
2). Pemujaan Lingga untuk Memohon Kerahayuan Jagad
Pemedek yang datang untuk melakukan pemujaan pemujaan Ida Bhatara Lingsir melalui media Lingga di Pura Kancing Gumi digunakan oleh masyarakat di Desa Adat Batulantang untuk memohon kerahayuan jagad atau keselamatan alam terhindar dari mara bahaya.
3). Pemujaan Lingga untuk Mohon Kesucian Melalui Penglukatan
Umat yang ingin melakukan penglukatan terlebih dahulu melakukan pemujaan di Pura Kancing Gumi dan selanjutnya menuju ke beji pura untuk melakukan ritual penyucian. Ritual penyucian ini dilakukan untuk menghilangkan unsur-unsur negatif yang terdapat dalam tubuh manusia yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan.

Beji Pura Kancing Gumi untuk memohon Penglukatan
Beji Pura Kancing Gumi untuk memohon Penglukatan

4). Pemujaan Lingga untuk Mohon Pengobatan
Pemuja yang datang ke Pura Kancing Gumi menyadari bahwa Ida Bhatara Lingsir dapat memberikan kesembuhan terhadap penyakit yang diderita melalui kekuatan-kekuatan gaib. Pemedek yang tangkil baik dari lingkungan Desa Adat Batulantang maupun dari masyarakat umum melakukan pemujaan dihadapan Lingga yang ditujukan kepada Ida Bhatara Lingsir untuk memohon pengobatan secara niskala melalui tirtha, bangket maupun minyak yang ada di Pura Kancing Gumi.
5). Pemujaan Lingga untuk Memohon Perlindungan atau Penyengker
Pemedek yang melakukan pemujaan di Pura Kancing Gumi memohon kehadapan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati melalui pemujaan Lingga untuk diberikan perlidungan seperti penyengker (perlidungan diri) yang mampu melindungi seseorang dari marabahaya ataupun kekuatan yang bersifat negative, melalui pemberian bangket, benang tridatu dan juga tirtha yang dimohon di Pura Kancing Gumi.

Pemangku memberikan Bangket dan benang tridatu
Pemangku memberikan Bangket dan benang tridatu

6). Pemujaan Lingga untuk Memohon Kesuburan
Memohon kesuburan biasanya dilakukan oleh kelompok warga yang tergabung dalam sekaa subak yakni kelompok petani yang ada di Desa Adat Batulantang. Upacara untuk memohon kesuburan ini bertepatan dengan perayaan hari raya tumpek uduh. Ritual ini dilakukan dengan penuh kepercayaan bahwa Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati akan membantu proses untuk mencapai hasil panen yang baik.
7). Pemujaan Lingga untuk Memohon Pasupati
Proses pasupati merupakan proses untuk sakralisasi suatu benda agar memiliki kekuatan magis dan bermanfaat. Benda yang dimohonkan pasupati merupakan barang yang baru selesai dibuat yang akan ditempatkan di didalam areal pura ataupun tempat suci lainnya.
8). Pemujaan Lingga untuk Memohon Keturunan
Pasangan suami istri yang melakukan pemujaan untuk memohon keturunan akan mengikuti rangakaian pemujaan. Dimulai dari pemujaan di hadapan Lingga kemudian dilanjutkan dengan melakukan penyucian diri di Beji Pura Kancing Gumi. Penyucian dilakukan agar kedua mempelai disucikan secara rohani atau niskala agar pasangan tersebut mendapatkan kesucian.
9). Lingga sebagai Benda Keramat atau Sakral
Kegiatan pemujaan adalah salah satu kegiatan untuk menyucikan areal pura guna mendapat vibrasi kesucian dari Ida Bhatara Lingsir. Setiap harinya secara bergiliran di Pura Kancing Gumi selalu ada seorang jero mangku yang bertugas baik untuk melakukan pemujaan maupun mekemit diareal pura. Secara sakala umat juga diminta untuk menjaga kesucian dengan mentaati semua hal yang dianjurkan oleh masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama masyarakat Desa Adat Batulantang.
10). Pemujaan Lingga Meningkatkan Keyakinan Masyarakat
Media Lingga diyakini memiliki kekuatan gaib yang berasal dari Ida Bhatara Lingsir melalui pemberian bangket dan pemberian percikan tirtha. Diberikannya bangket tersebut merupakan sebagai tanda dan simbol keselamatan. Dengan mendapatkan bangket pemuja berharap selalu mendapatkan perlindungan dari Ida Bhatara Lingsir.

C). MAKNA TEOLOGIS PEMUJAAN LINGGA DI PURA KANCING GUMI
1 Makna Filosofi
a. Makna Filosofi Lingga
Lingga sebagai unsur akasa dan bumi sebagai unsur pertiwi dapat bersatu sehingga akan memberikan dampak yang baik terhadap lingkungan umat manusia. Begitu juga dengan keberadaan Lingga di Pura Kancing Gumi yang menyatu dengan pertiwi atau bumi merupakan suatu anugerah yang sangat luar biasa.
b. Makna Filosofi Persembahan Upakara Pras Ajengan Daksina Pada Lingga
Masyarakat Desa Adat Batulantang membuat dan mempersembahkan upakara pras ajengan Daksina dengan berbagai kelengkapannya mempunyai makan filosofi menumbuhkembangkan sikap ketulusiklasan dalam membuat dan mempersembahkannya. Kebersamaan yang dibangun untuk membuat upakara tersebut adalah wujud nyata dari anugerah yang diberikan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati kepada pemujanya.
c. Makna Filosofi Upakara Persembahan 6 (Enam) Telur Itik
Makna filosofi upakara enam telor itik juga memiliki makna yang mendalam terhadap keberlangsungan alam semesta dimana manusia diingatkan untuk menjalankan kewajibannya yang disebut dengan sad dharma.
d. Makna Pemberian Bangket
Bangket diberikan kepada pemedek yang melakukan pemujaan di Pura Kancing Gumi dimaknai sebagai sujud kepada Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati sebagai simbol meniadakan rasa ego yang ada dalam diri manusia itu sendiri
e. Makna Benang Tridatu
Benang tridatu dimaknai oleh masyarakat Desa Adat Batulantang sebagai simbol keselamatan dari hal-hal yang bersifat negatif. Benang tridatu juga memiliki makna sebagai simbol raksa bandha yakni manjaga ikatan dengan bhakti kepada Sang Hyang Tri Murti. Sebagai janji untuk selalu pada arahan Sang Hyang Tri Murti, senantiasa hidup dijalan dharma atau kebenaran dan juga untuk senantiasa mengabdi pada tanah kelahiran.
f. Makna Pelinggih Gedong Catu Mujung dan Catu Meres
Pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Adat Batulantang dalam hal memuja kebesaran Tuhan yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup mereka yakni terhadap gunung dan air sebagai perwujudan Tuhan maka dilakukan pemujaan pada kedua perwujudan tersebut melalui Gedong Catu Mujung dan Gedong Catu Meres. Gunung sangat dihormati oleh umat Hindu karena merupakan sumber dari kelangsungan kehidupan manusia dan juga melindungi sumber air adalah merupakan suatu bentuk pemujaan terhadap Tuhan.
g. Makna Larangan Penggunaan Daging Babi
Tidak menggunakan daging babi pada setiap sarana upakara yang dipersembahakan pada Lingga di Pura Kancing Gumi dimaknai merupakan ajaran yang sangat mulia dan suci untuk mengingatkan masyarakat yang melakukan pemujaan untuk tidak dikuasai oleh sifat-sifat tamah yang sangat tidak baik menguasai prilaku manusia dalam menjalani kehidupan. Akan lebih baik sifat tersebut dikendalikan oleh sifat satwika yang akan menimbulkan kebijaksanaan.
h. Makna Warna Kain Pada Lingga
Makna warna hiasan kain pada Lingga,, Lingga yang nampak tinggi di Pura Kancing Gumi dihias dengan kain mengikuti arah angin. Lingga di hias dengan kain berwarna yang menyimbulkan kekuatan para dewa sesuai dengan dewata nawa sangga. Pemberian warna pada Lingga bahwa warna tersebut bermaknan untuk mendekatkan diri pemuja dengan yang dipuja dan juga sebagai jembatan penghubung.
1.2 Makna Religiusitas
Makna religiusitas, masyarakat di Desa Adat Batulantang menggunakan Pura tersebut untuk melakukan pemujaan kepada Ida Bhatara Lingsir dengan berbagai maksud seperti memohon penglukatan, memohon pengobatan, memohon kerahayuan jagad, memohon kesubuaran, mohon pasupati, memohon keturunan dan juga yang lainnya merupakan tujuan dari seorang pemedek yang melakukan pemujaan di Pura Kancing Gumi. bahwa pemujaan Lingga di Pura Kancing Gumi memiliki makna religi.
1.3 Makna Kesucian
Makna kesucian, masyarakat di Desa Adat Batulantang untuk menumbuhkan kesucian baik sarana upakara, tempat dan penyucian diri pribadi pemuja itu sendiri dengan menerapkan tri kaya parisudha sehingga akan terbentuk hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam. Sarana upakara yang digunakan untuk melakukan pemujaan adalah sarana yang sifatnya suci, suci yang dimaksud adalah bahan-bahan yang digunakan belum pernah dipakai untuk melakukan pemujaan atau sarana yang baru dan bersih serta cara mendapatkannya dengan jalan kebaikan.Tempat yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Ida Bhatara Lingsir dijaga kesuciannya dari hal-hal yang sifatnya kotor.
1.4 Makna Keseimbangan
Makna keseimbangan, keseimbangan terlihat dari hubungan yang baik antara pemuja dengan yang di puja, antara sesama pemuja dan juga antara pemuja dengan alam sekitar. Keimbangan pribadi juga dilakukan dengan melakukan proses penglukatan diri di beji Pura Kancing Gumi. Secara niskala untuk memohon keharmonisan seluruh alam dan isinya di Desa Adat Batulantang dan juga pemedek yang datang untuk melakukan pemujaan juga mengadakan upacara memohon kerahayuan jagad sebagai bentuk permohonan agar terjadinya keharmonisan diseluruh alam beserta isinya.

Upakara Banten Gebogan dengan sarana hasil kebun penduduk setempat
Upakara Banten Gebogan dengan sarana hasil kebun penduduk setempat

1.5 Makna Kemakmuran
Makna kemakmuran, makna kemakmuran atau kesuburan yang ada dalam pemujaan di Pura Kancing Gumi melalui media Lingga dapat kita lihat dari simbol yang digunakan dalam proses pemujaan. (a) Tirtha adalah air suci yang disajikan oleh umat Hindu dalam setiap persembahyangan dan merupakan hasil wujud bakti umat Hindu kepada Tuhan yang Maha Esa dalam bentuk waranugraha atau anugerah. (b) sarana upakara yakni dalam daksina yang menggunakan kelapa. Kelapa merupakan lambang atau simbol dari alam semesta beserta segala isinya filosofi agama Hindu yakni tattwa , susila dan acara. (c) Persembahan berupa enam telur itik adalah merupakan juga simbol dari keseimbangan yang akan mengatarkan pada kemakmuran. (d) persembahan banten atau upakara berupa hasil alam yang dihasilkan dari ladang disusun menjadi sebuah banten berupa banten gebogan dan dipersembahkan pada saat piodalan di Pura Kancing. (e) persembahan berupa dampulan kelanan gong yang merupakan sarana persembahan berupa ketupat yang bahan pokonya adalah beras yang memberikan arti kemakmuran pada sarana upakara.
1.6 Makna Kebahagiaan
Makna kebahagiaan, melakukan pelayanan dalam proses pemujaan sebagai bentuk ngayah kepada Ida Bhatara Lingsir merasa sangat bahagia ketika diberikan kesempatan untuk nyayah seperti melantunkan kidung-kidung suci, membuat sarana upakara, menari tarian sakral, menabuh, menghias berbagai pralingga, ngiring kebeji dan proses ngayah yang lainnya yang diikuti oleh anak kecil hingga dewasa. Terjalinnya komunikasi yang baik, dengan bertemu dan melakukan interaksi makan masyarakat merasa senang dan bahagia. Kebahagiaan juga akan lebih terasa jika setelah melakukan pemujaan diberikan benang tridatu serta bangket.
SIMPULAN DAN SARAN
8.1 Simpulan
Bentuk teologis Hindu dalam pemujaan Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati melalui media Lingga di Pura Kancing Gumi Desa Adat Batulantang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung yaitu Lingga tersebut sebagai salah satu simbol atau ñyasa suci dalam Agama Hindu yang dipergunakan oleh masyarakat Desa Adat Batulantang sebagai sarana untuk memuja Ida Bhatara Lingsir Sang Hyang Śiva Paśupati. Fungsi teologi pemujaan Lingga di Pura Kancing Gumi di Desa Adat Batulantang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung yaitu Lingga di Pura Kancing Gumi difungsikan sebagai media pemujaan dan sarana penghubung antara pemuja dengan yang dipuja yakni Ida Bhatara Lingsir Śiva Paśupati. memohon kerahayuan jagad atau keselamatan dan ,penglukatan, mohon pengobatan secara , memohon perlindungan atau penyengker, memohon kesuburan, memohon , memohon keturunan,berfungsi sebagai benda keramat atau sacral dan berfungsi untuk meningkatkan keyakinan umat Hindu. Makna teologi pemujaan Lingga di Pura Kancing Gumi di Desa Adat Batulantang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung yaitu ; makna filosofi , makna religiusitas, makna kesucian, makna keseimbangan, makna kemakmuran dan makna kebahagiaan.
8.2 Saran
Pura Kancing Gumi serta seluruh yang ada didalamnya harus di dipelihara dengan baik dijaga kesucian serta kesakralannya agar selalu memberikan vibrasi yang baik terhadap seluruh alam semesta. Pemerintah dan masyrakat agar selalu memperhatikan kelangsungan dan ikut menjaga keberadaan Pura Kancing Gumi karena merupakan Pura Kahyangan Jagad.

DAFTAR PUSTAKA

Alit Wismara, I. B. 2010. Kedudukan pemangku Dalam Beryajna.Surabaya: Paramita.
Ambarawati, Ayu.1997. Seri Penerbitan Forum Arkiologi. Denpasar: Balai Arkiologi Denpasar.
Atmadja, Nengah Bawa dkk.1993. “Laporan Penelitian Pemujaan Dewa Gede Celak Kontong dan polarisasi Perilaku Ritual Pada Masyarakat Desa Adat Kayu Putih, Banjar, Buleleng”.Denpasar. Universitas Udayana.
Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekataan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi.2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekataan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Astawa,Oka.2009. Seri Penerbitan Forum Arkiologi.Denpasar: Balai Arkiologi Denpasar.
Badjera Yasa, I.G dk. 1983. Acara Agama II. Proyek Pembinaan Mutu pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama RI.
Basrowi, dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif, Ekonomi, Komunikasi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media Group.
Dalem, I Gusti Ketut. 2011. Buku Pedoman Penyuluhan Agama Hindu. Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar.
Desa Adar Batu Lantang. 2005. Purana Pura Kahyangan Jagat Kancing Gumi Desa Adat Batulantang. Surabaya: Paramita
Desa Adat Batulantang. 2010. Eka Ilikita Desa Adat Batulantang (monografi).
Desa Adat Batulantang. 2010. Awig-Awig Desa Adat Batulantang.
Desa Sulangai. 2011. Data Profil Desa dan Kelurahan. Departemen Dalam Negeri.
Donder, I Ketut. 2005.”Esensi Bunyi Gamelan Dalam Prosesi Ritual(Implikasi Sosioreligi Bagi Umat Hindu di Kota Palu Sulawesi Tengah”. IHDN Denpasar.
Donder. I Ketut. 2006. Bramavidya, Teologi Kasih Semesta. Surabaya: Paramita
Donder. I Ketut. 2009. Teologi: Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah Tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Surabaya: Paramita
Dwitayasa. 2010. “Pemujaan Dewi Danu Di Pura Pucak Sari Desa Pekraman Bayad, Kedisan Tegalalang Gianyar”. Tesis yang tidak dipublikasikan. IHDN Denpasar
Gungu. 2012. Sarasamuccaya Terjemahan bergambar.Denpasar: PT. Mabhakti
Goris, R.1974. Sekte-sekte Di Bali (terjemahan). Jakarta: Bhratara.
Iqbal, Hasan.2002.Metodelogi penelitian dan aplikasinya. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Jelantik Ida Ketut, 1979. Geguritan Sucita Muah Subudi, Denpasar: Cempaka
Kaplan, David dan Albert .Manners. 1999. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia.
Koentjaraningrat.1997. Antropologi Budaya. Jakarta: Dian Rakyat.
Tim Pustaka Phoenix.2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru. Jakarta: PT.Media Pustaka phoenik.
Majelis Utama Desa Pekraman Bali. 2013. Tuntunan Sesana Pacalang Bali.Denpasar
Masyuri dan Zainuddin, M. 2008. Metodelogi Penelitian Pendekatan Praktis Dan Aplikatif. Bandung: PT. Reflika Aditama.
Merta, I Made. 2010. “Upacara Ngusaba Pingit Di Pura Dalem Pingit Desa Pekraman Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Skripsi Tidak Dipubikasikan. IHDN Denpasar.
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Netra, Anak Agung Gede Oka. 1995. Tuntunan Dasar Agama Hindu. Jakarta: Hanuman sakti.
Oka Punyatmadja, I.B. 1984. Pancha Çradha. Denpasar. Parisada Hindu Dharma Pusat.
Pemerintah Provinsi Bali. 2006. Hinpunan Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-XV. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat.
Pendit,S.2002. Bhagawad Gita.Jakarta: Gramedia.
Pudja,G dan Rai Sudharta, Tjokorda.1973. Mānava DharmaŚāstra (Manu Dharmaśāstra) atau Veda Smerti- Conpedium Hukum Hindu. Surabaya: Paramita.
Pudja, Gede, 1999. Theologi Hindu (Brahma Widya). Surabaya: Paramita.
Pudja, G. 1999. Bhagawad Gita (Pancama Veda).Surabaya: Paramita.
Prima Surya Wijaya, A.A. 2010. Saya Bangga beragama Hindui. Surabaya: Paramita.
Ruslan, Rusli. 2008. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Oka. 2001. Śiva Purāna. Surabaya: Paramita.
Saputra, I Made Linggar. “Lingga Pada Beberapa Pura Di Desa Pejeng Dan Bedulu (Kajian Konsepsi)”(skripsi). Denpasar: Universitas Udayana.
Sokaningsih, Ni Made. 2007. Upacara Pemujaan Durga Mahisasura Mardani. Surabaya: Paramita.
Subagiasta, I Ketut. 2006.Tattwa Hindu Bagi Pandita dan Pemangku. Surabaya: Paramita
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan R&d. Denpasar: Alfabeta.
Suhardi, Untung. 2013. “Kajian Bentuk Dan Makna Lingga Perspektif Teologi Hindu (Studi Lingga Sebagai Media Pemujaan di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah”. Tesis yang tidak dipublikasikan. IHDN Denpasar.
Surada, I Made.2008. Kamus Sanskerta Indonesia. Denpasar: Widya Dharma
Sutrisno SJ, Mudji, dan Verhaak SJ, Christ. 2000. Estetika Filsafat keindahan. Yogyakarta: Kanisius.
Suryabrata. 2003. Metodelogi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tim Penyusun. 1985. Acara III. Direktorat jenderal Bimas Hindu dan Budha.

Tirtayasa. I Gusti Putu. 2012. “Lingga Di Pura Kancing Gumi Sebagai Media Pemujaan Bagi Masyarakat Di Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung”. Skripsi yang tidak dipublikasikan. IHDN Denpasar.
Titib, I Made. 1996. Veda Sabda Suci (Pedomana Praktis Kehidupan). Surabaya: Paramita.
Titib, I Made. 2003. Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
Titib, I Made. 2003. Purana Sumber Ajaran Hindu Konprehensip. Jakarta: Pustaka Mitra Jaya.
Triguna, Ida Bagus Gede Yudha. 2000. Teori Tentang Simbol. Denpasar: Widya Dharma.
Wiana, I Ketut. 1993. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya: Paramita
Wiana, I Ketut. 2000. Arti Dan Fungsi Sarana Persembahyangan. Surabaya: Paramita.
Wiana, I Ketut. 2007. Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu. Surabaya: Paramita.
Wiana, I Ketut. 2009. Pura Besakih Hulunya Pulau Bali. Surabaya: Paramita
Wiana, I Ketut. 2009. Sembahyang Menurut Hindu. Denpasar: Pustaka Bali Post
Sumber Internet
http://www.referensimakalah.com/2012/08/pengertian-teologi-etimologis-dan.html diakses tanggal 16 Oktober 2013.
http://luluvikar.wordpress.com/2010/12/29/makna-dan-teori-tentang-makna-tugas/.
http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi diaskes pada tanggal 6 Desember 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/Deskripsi, diupload pada 14-12-2013.
– http: // agama- -hindu. blogspot. Com /2012_ 07 _ 01 _archive. html, diakses tanggal 29 Mei 2014.
http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2012/09/pemujaan-dewi-kemakmuran-di-era.html, diakses tanggal 20 Mei 2014.
http://klikharry.com/ 2012/11/24/ manusia-dan-kemakmuran/ diakses tanggal 2 Mei 2014.
http://agungarjawa.blogspot.com diakses tanggal 23 Mei 2014.
http://wira-hady. blogspot. com/ 2014/01/ bentuk- bentuk- fungsi- dan- pelestarian.html diakses tanggal 16 Mei 2014.
http://malamtadi.wordpress.com/2010/08/13/konsep-warna-dalam-dewata-nawa-sanga/.
http://www.babadbali.com/pustaka/ibgwdwidja/ss26.htm
http://luluvikar.wordpress.com/2010/12/29/makna-dan-teori-tentang-makna-tugas/.
http://mbokdheriahanesti.blogspot.com/2011/07/presentasi-aliran-london-aliran.html.
http://Studi-relasi-dan-perbandingan-antara-makna-idiom-dan-makna-leksikal_khalifah-n.
https://www.academia.edu/1422518/analisis_dan_interpretasi_ data_ kualitatif_ serta_ pemeriksaan_ keabsahan_data.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s